Kegiatan Perusahaan

Tim Riset Pupuk Kujang saat berkunjung ke green house Paprika Dewa di Bandung Barat Tim Riset Pupuk Kujang saat berkunjung ke green house Paprika Dewa di Bandung Barat

Misi Penyelamatan Paprika Dewa

 Petani paprika di Kabupaten Bandung Barat terdampak pandemi. Paprika mereka tak ada yang membeli, green house mereka terbengkalai. Pupuk Kujang datang memberi solusi menyeluruh, petani paprika unggulan itu lolos dari bangkrut...

 

Pandemi Memukul Segalanya

Bandung Barat – Dengan berat hati, Deden Wahyu Amalludin melangkahkan kakinya menuju green house yang penuh paprika siap panen. Perasaan terpaksa menyelimutinya saat satu per satu pohon paprika yang ia rawat dengan baik ditebang. Suasana resah mencekam perkebunan seluas 4 hektare itu.

Pandemi yang memukul ekonomi membuat paprika Deden dan kelompoknya sempat kehilangan pasar. Sejumlah restoran dan supermarket pelanggan setia mereka tak lagi memesan paprika. Bagaimana ingin pesan? sedangkan restoran dan supermarket sepi pengunjung.

Supaya tidak mubazir, 3 ton paprika yang tak terserap pasar ia bagikan secara cuma-cuma. Jika seluruh pohon paprika dibiarkan terus tumbuh, ia harus merogoh kocek lebih untuk menutup biaya pupuk dan nutrisi tanaman. Maklum, saat itu Deden dan kelompoknya merupakan penggemar pupuk paprika buatan asing yang dikenal mahal.

“Saat normal, rata-rata 5 ton terjual setiap pekan, saat pandemi hanya sekira 2,5 ton per pekan. Alhasil 50 ribu pohon paprika terpaksa ditebang untuk mengurangi biaya. Hal itu menyebabkan tidak semua green house ditanami,” kata Deden menceritakan situasi tahun lalu, saat wabah corona sedang merebak.

Lantaran setengah populasi ditebang, para pekerja jarang menengoki green house kosong itu. Pendapatan yang menurun dan modal yang habis jadi penyebab green house tersebut tak diperbaiki.

Hingga beberapa bulan lalu, sejumlah green house di kelompok Deden hampir porak poranda. Kondisnya mengenaskan, tak menggambarkan milik petani unggulan dan berdaulat. Lubang muncul di sana sini, sebagian tiang penyangganya reyot bahkan terdapat green house yang hampir rubuh. 

Deden bercerita, kerugian saat itu mencapai Rp 500 juta. Padahal, pinjaman untuk modal tanam periode sebelumnya belum lunas. Di tengah segala kesulitan, Ketua Kelompok Tani Dewa Family itu bertahan sekuat tenaga. Pengurangan komoditi dipilih jadi strategi. Ia memutuskan hanya menanam paprika sesuai dengan pesanan yang masih ada, meski tak sebanyak biasanya.

Langkah itu dilakukan hampir satu tahun. Deden dan kelompoknya mengencangkan ikat pinggang agar terus menanam meski tak banyak. Ia tentu berharap bangkit. Saat wabah corona perlahan mereda, Deden dan kelompoknya ingin bisa kembali menjual 5 ton paprika setiap pekan.

Saat situasi normal, target tersebut dapat tercapai karena kelompok Deden memiliki 25 green house dengan total luas 4 hektare, dan selalu penuh oleh paprika. Dalam green house itu, Deden biasa merawat hingga 100 ribu pohon paprika. “Kami mulai merangkak lagi karena pasar pelan-pelan sudah pulih. Banyak permintaan datang yang harus kita penuhi,” kata Deden.

Namun rupanya, mengembalikan kondisi bisnis setelah terpuruk tidaklah mudah. Kerugian yang memukul selama pandemi membuat tabungan dan modal Deden terbatas. Begitupun dengan 20 green house petani binaan lainnya. Bisakah kejayaan paprika Dewa Family kembali ? 

 

Tertolong Pupuk Kujang

“Cerita petani paprika yang kesulitan terdengar hingga ke Pupuk Kujang. Sebagai sahabat petani, kami tak perlu alasan untuk terus menolong dan memberi solusi kepada petani,” 

Maryadi, Direktur Utama Pupuk Kujang

Dua departemen disiapkan dalam penyelamatan petani paprika ini. Departemen Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) Pupuk Kujang menyiapkan paket stimulus bantuan untuk petani paprika di Bandung Barat. “Bantuan berupa dana segar untuk modal petani paprika di Kabupaten Bandung Barat,” Kata Agung Gustiawan, Vice President PKBL Pupuk Kujang.

Dalam membantu petani paprika, PKBL berkolaborasi dengan Dapartemen Riset. Hal itu dilakukan karena petani paprika tak hanya kesulitan modal, namun juga dihadapkan dengan harga pupuk asing yang mahal. Petani memang mencari alternatif pupuk dan nutrisi khusus paprika yang berkualitas dengan harga terjangkau.

Melihat hal itu, tim riset membuat formula nutrisi tanaman khusus paprika. Tentu berkualitas dan harganya tidak mencekik petani. “Kami kemudian mengaplikasikan nutrisi tanaman di lahan petani paprika Bandung Barat,” kata Drikarsa dari Departemen Riset.

Selain mendapat bantuan nutrisi tanaman, Deden dan kelompoknya memperoleh bantuan dana segar. Dana itu digunakan untuk memperbaiki  green house besar yang rusak. “Bantuan dari Pupuk Kujang memang mencukupi biaya perbaikan green house. Tapi harga pupuk khusus paprika yang mahal masih menjadi kendala,” kata Deden.  

 

Sama seperti Deden, kebanyakan petani paprika di Indonesia masih tergantung pada produk asing. Selain benih dari Belanda, petani juga kerap menggunakan pupuk buatan negeri tetangga. Harganya yang tinggi membuat petani paprika kelimpungan mengejar permintaan pasar.

Sebetulnya, kata Deden, petani paprika mencari alternatif nutrisi tanaman. Namun sejauh ini, kata Deden, belum terdapat nutrisi buatan anak bangsa yang kualitasnya melebihi pupuk asing yang mahal tapi familiar tersebut. “Kalau ada buatan Indonesia yang kualitasnya tak kalah, kemungkinan besar petani akan lebih memilih prodak dalam negeri,” kata Deden dengan nasonalis. 

Begitupun dengan Deni, petani paprika dari Family Rejeki Tani, Pasirlawung, Kabupaten Bandung Barat, Deni mengharapkan terdapat produk dalam negeri yang kualitasnya tak kalah dengan pupuk asing. “Mudah-mudahan dari Indonesia dapat menyempurnakan apa yang dibutuhkan petani jangan sampai impor semua. Kita inginnya pakai barang Indonesia aja,” kata Deni melalui saluran telepon, Senin, 19 April 2021.

Melihat keresahan petani, Tim Riset Pupuk Kujang terjun langsung ke lahan dan green house paprika di Pasirlawung untuk melakukan penelitian dan riset pendahuluan. Setelah melalui berbagai tahapan, tim riset menemukan formula nutrisi khusus paprika sehingga dapat diaplikasikan di lahan tersebut.

“Setelah dua percobaan di lahan Pak Deden, terdapat peningkatan produktivitas hingga 13,9 persen dan peningkatan omzet sekira 24,9 persen,” kata Drikarsa dari Departemen Riset.

Melihat hasil tersebut, Deden berharap pada formula nutrisi yang dikembangkan Pupuk Kujang. “Saya harapkan nutrisi tanaman buatan Pupuk Kujang bisa menjadi alternatif. Karena harga bisa lebih terjangkau dan kualitasnya tak kalah. Hasil riset kemarin cukup baik. Kalau harga lebih terjangkau, yakin pasti digemari petani paprika,” kata Deden.

Deden mengatakan, program pendampingan dari Pupuk Kujang membuatnya bersemangat dan merasa mendapat “nafas baru” untuk meningkatkan produktivitas paprika.

“Ya Alhamdulillah, dengan adanya pendampingan dari PT Pupuk Kujang membantu Kelompok Tani Dewa Family untuk bangkit kembali dan menjadi pemantik semangat awal dalam meningkatkan produktivitas paprika kami,” kata Deden melalui saluran telepon, Senin, 19 April 2021. “Adanya program pembinaan ini seperti nafas baru bagi kami” tambah Deden.

Selain itu, Deden mulai melihat terdapat peningkatakn omzet karena dapat menekan biaya produksi. Terutama pada biaya pupuk dengan harga yang lebih terjangkau, namun tetap menghasilkan kualitas paprika yang baik.

Melihat hasil positif dari adanya program pendampingan dan nutrisi paprika dari Pupuk Kujang, Deden mengaku akan terus menggunakan produk Pupuk Kujang.

“Setelah mencoba menggunakan nutrisi dari Pupuk Kujang, akhirnya saya putuskan untuk terus menggunakannya, karena paprika menjadi berbuah dengan cepat, selain itu pohon dan daun menjadi lebih kuat dan subur, buah menjadi lebih bagus warnanya” Tutur Deden. 

Setelah memberikan solusi dalam aspek modal tanam dan nutrisi tanaman, Pupuk Kujang juga membantu petani memasarkan paprika mereka. Saat ini, Pupuk Kujang berkomunikasi dengan pihak pasar moderen dan anak usaha Garuda Indonesia di bidang restoran.

Keinginan petani paprika lepas dari produk asing melecut Pupuk Kujang untuk terus berkarya. Tim Riset sedang terus menyempurnakan nutrisi paprika. Sebab, petani menunggu nutrisi khusus paprika buatan dalam negeri yang berkualitas. (gta-hl/KP)

Rate this item
(1 Vote)

stay connected

Anda dapat menghubungi kami melalui email info@pupuk-kujang.co.id, atau berlangganan newsletter dengan menginputkan alamat email anda dibawah ini.

Visitor Counter

Sekarang : 558                    
Kemarin : 885
Bulan Ini : 1874
Bulan Kemarin : 22955
Semua : 191811